Kalau dulu kita membayangkan malware sebagai file berbahaya yang cukup ditemukan lalu dihapus, sekarang ceritanya tidak sesederhana itu. Pelaku kejahatan siber kini menggunakan alat khusus untuk membuat malware mereka lebih sulit dikenali.
Salah satunya adalah Cruciferra, sebuah layanan yang digunakan untuk menyamarkan malware Windows. Alat ini dapat mengubah tampilan atau karakteristik malware sehingga lebih sulit dikenali hanya berdasarkan pola yang sudah diketahui ystem keamanan.
Cruciferra juga dapat digunakan ystem berbagai jenis malware, termasuk malware pencuri informasi dan program yang memungkinkan ystemr korban dikendalikan dari jarak jauh. Layanan seperti ini bahkan ditawarkan di pasar bawah tanah, menunjukkan bahwa pelaku tidak harus membuat seluruh alat serangan sendiri. Mereka bisa menggunakan atau menyewa layanan yang sudah tersedia.
Serangan biasanya tetap dimulai dari cara yang sederhana. Dalam beberapa kampanye, pelaku menggunakan email phishing dengan berbagai tema agar korban tertarik membuka file atau mengunduh sesuatu. Setelah malware berhasil masuk, berbagai ystem digunakan untuk mendapatkan hak akses lebih tinggi dan mengganggu ystem keamanan ystemr.
Karena itu, keamanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan antivirus mengenali file berbahaya. Sistem juga perlu mampu melihat perilaku yang mencurigakan, misalnya program yang mencoba menonaktifkan keamanan, mengubah pengaturan ystem, atau memperoleh hak akses yang tidak semestinya.
Malware tidak selalu datang sambil mengetuk pintu. Kadang ia datang menyamar sebagai file biasa. Jadi, sebelum klik, berhenti sebentar dan pikirkan: “Benarkah saya membutuhkan file ini?”
Sumber : csirt.or.id