Selama ini kalau ngomong soal kejahatan siber, yang kebayang pasti hacker, pencurian data, atau serangan DDoS yang bikin internet lemot dan down.
Tapi sekarang, operator telekomunikasi—yang ngurus jaringan internet dan seluler—punya tantangan baru: ancaman yang datang dari dalam sistem mereka sendiri.
Tapi sekarang, operator telekomunikasi—yang ngurus jaringan internet dan seluler—punya tantangan baru: ancaman yang datang dari dalam sistem mereka sendiri.
Dan pelakunya adalah Artificial Intelligence (AI).
Iya, teknologi yang seharusnya membantu justru bisa bikin masalah besar kalau salah pakai.
Iya, teknologi yang seharusnya membantu justru bisa bikin masalah besar kalau salah pakai.
Ancaman Lama Masih Tetap Aktif
Menurut laporan terbaru dari Kaspersky:
1. Serangan APT
Ini tipe serangan “ninja”.
Hackernya masuk ke jaringan, diam bertahun-tahun, mencuri data tanpa ketahuan, dan kadang memata-matai.
Hackernya masuk ke jaringan, diam bertahun-tahun, mencuri data tanpa ketahuan, dan kadang memata-matai.
2. Celah di Rantai Pasokan
Sistem telekomunikasi pakai banyak vendor & software.
Kalau satu saja punya celah keamanan, hacker bisa nyusup masuk ke seluruh jaringan.
Kalau satu saja punya celah keamanan, hacker bisa nyusup masuk ke seluruh jaringan.
3. Serangan DDoS
Serangan yang bikin sistem kebanjiran trafik palsu, sampai jaringan ngelag, layanan mati, dan pelanggan ngamuk.
4. Penipuan SIM
Contohnya nomor telepon dibajak buat transaksi ilegal atau akses OTP palsu.
Data setahun terakhir:
· 12,79% pengguna telekomunikasi ketemu ancaman online
· 20,76% perangkat kena malware
· Hampir 10% operator pernah kena ransomware
· 12,79% pengguna telekomunikasi ketemu ancaman online
· 20,76% perangkat kena malware
· Hampir 10% operator pernah kena ransomware
Dengan kata lain, masalah sekarang masih berat.
AI: Solusi yang Bisa Menjadi Masalah
AI: Solusi yang Bisa Menjadi Masalah
Memasuki tahun 2026, operator makin mengandalkan AI untuk:
· Mengatur jaringan otomatis
· Mengecek masalah real-time
· Bikin keputusan cepat tanpa harus menunggu teknisi
· Mengatur jaringan otomatis
· Mengecek masalah real-time
· Bikin keputusan cepat tanpa harus menunggu teknisi
Tapi di sinilah bahayanya.
Risiko Baru AI
Risiko Baru AI
Kalau AI:
❌ Pakai data yang salah
❌ Disusupi data palsu
❌ Diprogram tanpa kontrol
…AI bisa bikin keputusan fatal, dan kesalahan itu menyebar ke seluruh jaringan dalam hitungan menit.
❌ Pakai data yang salah
❌ Disusupi data palsu
❌ Diprogram tanpa kontrol
…AI bisa bikin keputusan fatal, dan kesalahan itu menyebar ke seluruh jaringan dalam hitungan menit.
Contoh sederhananya:
Kalau AI salah baca pola dan mengira server “bermasalah”, bisa saja mematikan layanan yang justru sehat dan bikin internet satu kota ikut mati.
Kalau AI salah baca pola dan mengira server “bermasalah”, bisa saja mematikan layanan yang justru sehat dan bikin internet satu kota ikut mati.
Makanya, AI bukan cuma dipasang lalu tinggal jalan sendiri.
Harus tetap ada manusia yang ngawasin, cek hasilnya, dan siap membatalkan keputusan salah.
Tantangan Lain: Post-Quantum Cryptography
Harus tetap ada manusia yang ngawasin, cek hasilnya, dan siap membatalkan keputusan salah.
Tantangan Lain: Post-Quantum Cryptography
Ada ancaman baru dari komputer super cepat di masa depan: komputasi kuantum.
Untuk menghadapinya, banyak operator mulai pakai enkripsi model baru, tapi ada risiko:
Untuk menghadapinya, banyak operator mulai pakai enkripsi model baru, tapi ada risiko:
· Sistem jadi lebih ribet
· Bisa bikin salah konfigurasi
· Kalau belum diuji benar, justru membuka celah baru
· Bisa bikin salah konfigurasi
· Kalau belum diuji benar, justru membuka celah baru
Jadi, keamanan generasi baru juga harus diperkenalkan pelan-pelan, bukan buru-buru.
Apa yang Perlu Dilakukan Operator?
Kaspersky menyarankan beberapa langkah:
✔ Pantau terus serangan APT dan aktivitas hacker
✔ Pakai threat intelligence untuk tahu pola serangan terbaru
✔ Terapkan AI bertahap + punya tombol undo/rollback
✔ Manusia tetap pegang kendali di keputusan penting
✔ Siapkan mitigasi DDoS sejak awal
✔ Pakai EDR untuk deteksi malware cepat
✔ Validasi data yang masuk ke sistem AI
✔ Pantau terus serangan APT dan aktivitas hacker
✔ Pakai threat intelligence untuk tahu pola serangan terbaru
✔ Terapkan AI bertahap + punya tombol undo/rollback
✔ Manusia tetap pegang kendali di keputusan penting
✔ Siapkan mitigasi DDoS sejak awal
✔ Pakai EDR untuk deteksi malware cepat
✔ Validasi data yang masuk ke sistem AI
Intinya: otomatisasi boleh, tapi jangan lepas kemudi.
Kesimpulan
Dunia telekomunikasi lagi ada di titik krusial:
· Ancaman lama masih kuat
· Ancaman baru mulai muncul
· Teknologi canggih seperti AI bisa jadi pelindung atau malah jadi pintu bencana
· Ancaman lama masih kuat
· Ancaman baru mulai muncul
· Teknologi canggih seperti AI bisa jadi pelindung atau malah jadi pintu bencana
AI bukan musuh—tapi kalau dipakai tanpa pengawasan, ia bisa mengambil keputusan yang jauh lebih cepat dari manusia… termasuk keputusan yang salah.
Di era serba otomatis ini, pelajaran pentingnya sederhana:
Teknologi pintar tetap butuh manusia yang lebih pintar di balik kemudi.
Teknologi pintar tetap butuh manusia yang lebih pintar di balik kemudi.
Sumber : https://csirt.or.id/